Kamis, 23 April 2015

Sekedar Coretan Kecil



Indonesia Hanya Cover Buku saja!



Melihat banyak kejadian yang ada di Indonesia, banyak yang dapat kita ambil untuk pelajaran, antara lain kinerja pemerintah dan pemengak hokum dalam menghadapi persoalan hokum yang ada di Indonesia. Jika kita tengok kebelakang banyak kasus yang belum terselesaikan.

Seperti beberapa kasus yang belum terselesaikan terkait ketidakadilan  serta kasus yang merugikan Negara, yang saya maksudkan disini adalah beberapa kasus yang melanggar HAM, ketidakadilan di depan hokum  serta kasus korupsi yang belum dituntaskan juga, walaupun KPK sudah menargetkan akan menyelesaiakan beberapa kasus korupsi pada tahun 2013 yang merugikan Negara sangat banyak, lalu hasilnya? jawabnya nihil, alasanya memang tidak diketahui namun yang jelas pasti kasus korupsi tersebut melibatkan anggota pemerintahan jika tidak pasti sudah selesai sejak kasus itu dimulai.

Kasus yang sekarang mungkin sudah terlupakan seperti perkara system adminisrasi badan hokum (sisminbakum), kasus Depsos, kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia (DGSBI) Miranda Goeltom, kasus Gayus Tambunan dan kasus bank Sentury  menghilang ditelan bumi, tidak ada kepastian yang menunjukan bahwa kasus tersebut selesai, hal ini menunjukan Betapa lemahnya hokum di Indonesia jika menyangkut pejabat Negara pasti kasus tidak akan selesai, namun jika mengakut golongan bawah tanpa melihat hokum langsung menjatuhkan hukuman yang tidak manusiawi, seperti halnya kasus  Sum Kuning (1970) yang kemungkinan tidak banyak orang yang tau yang dimana disini terlihat polisi tidak berkutik menghadapi pejabat Negara bagaiman tidak, Sum Kuning diperkosa sejumlah anak dari pejabat, lalu disuap untuk tidak melaporkanya ke polisi, namun ketika  ia melaporkanya, pihak polisi membalik menuduh bahwa tuduhan yang ia sampaikan adalah dusta serta menjadikan  pedangang  bakso keliling sebagai kambing hitam dan dipaksa untuk mengakui bahwa ia pelakunya, bukan hanya itu saja yang menunjukan ketidakadilan di depan hokum seperti halnya kasus kematian peragawati terkenal Dietje, kasus Udin, kasus Semanggi I,II dan Trisakti bukan hanya ini saja namun ada banyak kasus yang tidak diketahui public, dan sampai sekarang  kasus ersebut tidak penah selesai, tidak selesai karena mungkn ada unsur internal atau memang sengaja dibiarkan saja.

Kemana perginya UUD pasal 27 ayat 1 yang berbunyi “Semua  warga Negara mempunyai kedudukan yang sama  di depan hokum dan pemerintahan itu tanpa ada kecualinya”, sepertinya sekarang sudah diubah “ tanpa ada kecualinya” dihapus dan diganti dengan” kecuali pejabat tinggi  atau golongan atas”. Hokum itu seharusnya seperti pedang tajam ke atas adan tajam kebawah namun sekarang tajam kebawah tumpul ke atas, beginilah hokum Indonesia sekarang sehingga golongan atas mampu menari- nari di atas penderitaan golongan bawah, miris bukan, Indonesia yang mengaku Negara Pancasila tapi tidak pernah diterapkkan  melainkan hanya julukan semata saja.

Satu hal lagi, sebuah berita yang cukup membuat rakyat geram yaitu DPR  meminta kenaikan gaji, hal ini boleh- boleh saja minta kenaikan gaji namun jika kinerja Nol tidak pernah hadir dalam pertemuan dan jarang masuk kerja, apa gunanya? Lalu  bagaimana dengan para guru yang mengajar di Kalimatan, NTB,NTT, dan tempat- tempat yang tidak dapat dijangkau, mereka selalu hadir dalam setiap sesi belajar mengajar namun gaji mereka tidak seberapa? Apakah dengan cara ini pemerintah menghargainya? Dengan memberi yang tidak setimpal. Hal inilah yang membuat Indonesia ketinggalan jauh dari negra lain seperti Singapura, Malaysia yang dimana Negara tersebut merdeka setelah Indonesia namun dapat maju dan menjadi Negara yang  maju, bagaiman dengan Indonesia?

Korupsi hilang, Hukum adil, pemrintah melayani rakyat, kinerja pemerintah dan polisi yang baik, Indonesia mapu melampui Singapura dan menjadi Negara maju. Tapi itu hanya mimpi saja, Indonesia memang sudah merdeka namun hanya luarnya saja, tetapi bagian dalamnya mencapi 50% merdeka saja tidak , mengapa begitu hal ini disebabkan indonesia menjajah negaranya sendiri dengan ketidakadilan yang sudah tidak diluar nalar manusia.

Indonesia bisa diibaratkan seperti cover buku saja indah diluar namun dalamnya tidak bermutu penuh dengan hal- hal yang tidak penting dan tidak berguna. Indonesia penuh dengan beragam budaya, bahasa, flora dan fauna sudah seperti surga dunia namun dalam sistem  pemerintahan penuh dengan korupsi, ketidakadilan dan banyak hal yang membuat kemunduran. Cukup bisakah Indonesia bangkit dan menjadi buku yang indah di dalam dan luar sehingga pembaca tidak kecewa saat membelinya.

Oleh:Retno Indah Sari,Mahasiswi Jurusan Teknik Sipil,Universitas Teknologi Yogjakarta



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar