Indonesia Hanya Cover Buku saja!
Melihat
banyak kejadian yang ada di Indonesia, banyak yang dapat kita ambil untuk
pelajaran, antara lain kinerja pemerintah dan pemengak hokum dalam menghadapi
persoalan hokum yang ada di Indonesia. Jika kita tengok kebelakang banyak kasus
yang belum terselesaikan.
Seperti
beberapa kasus yang belum terselesaikan terkait ketidakadilan serta kasus yang merugikan Negara, yang saya
maksudkan disini adalah beberapa kasus yang melanggar HAM, ketidakadilan di
depan hokum serta kasus korupsi yang
belum dituntaskan juga, walaupun KPK sudah menargetkan akan menyelesaiakan
beberapa kasus korupsi pada tahun 2013 yang merugikan Negara sangat banyak,
lalu hasilnya? jawabnya nihil, alasanya memang tidak diketahui namun yang jelas
pasti kasus korupsi tersebut melibatkan anggota pemerintahan jika tidak pasti
sudah selesai sejak kasus itu dimulai.
Kasus yang
sekarang mungkin sudah terlupakan seperti perkara system adminisrasi badan
hokum (sisminbakum), kasus Depsos, kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Bank
Indonesia (DGSBI) Miranda Goeltom, kasus Gayus Tambunan dan kasus bank Sentury menghilang ditelan bumi, tidak ada kepastian
yang menunjukan bahwa kasus tersebut selesai, hal ini menunjukan Betapa
lemahnya hokum di Indonesia jika menyangkut pejabat Negara pasti kasus tidak
akan selesai, namun jika mengakut golongan bawah tanpa melihat hokum langsung
menjatuhkan hukuman yang tidak manusiawi, seperti halnya kasus Sum Kuning (1970) yang kemungkinan tidak
banyak orang yang tau yang dimana disini terlihat polisi tidak berkutik
menghadapi pejabat Negara bagaiman tidak, Sum Kuning diperkosa sejumlah anak
dari pejabat, lalu disuap untuk tidak melaporkanya ke polisi, namun ketika ia melaporkanya, pihak polisi membalik menuduh
bahwa tuduhan yang ia sampaikan adalah dusta serta menjadikan pedangang
bakso keliling sebagai kambing hitam dan dipaksa untuk mengakui bahwa ia
pelakunya, bukan hanya itu saja yang menunjukan ketidakadilan di depan hokum
seperti halnya kasus kematian peragawati terkenal Dietje, kasus Udin, kasus Semanggi
I,II dan Trisakti bukan hanya ini saja namun ada banyak kasus yang tidak
diketahui public, dan sampai sekarang
kasus ersebut tidak penah selesai, tidak selesai karena mungkn ada unsur
internal atau memang sengaja dibiarkan saja.
Kemana perginya UUD pasal 27 ayat 1 yang berbunyi “Semua warga Negara mempunyai kedudukan yang sama di depan hokum dan pemerintahan
itu tanpa ada kecualinya”, sepertinya
sekarang sudah diubah “ tanpa ada kecualinya” dihapus dan diganti dengan”
kecuali pejabat tinggi atau golongan
atas”. Hokum itu seharusnya seperti pedang tajam ke atas adan tajam kebawah
namun sekarang tajam kebawah tumpul ke atas, beginilah hokum Indonesia sekarang
sehingga golongan atas mampu menari- nari di atas penderitaan golongan bawah,
miris bukan, Indonesia yang mengaku Negara Pancasila tapi tidak pernah
diterapkkan melainkan hanya julukan
semata saja.
Satu hal lagi, sebuah berita yang cukup membuat rakyat geram yaitu
DPR meminta kenaikan gaji, hal ini
boleh- boleh saja minta kenaikan gaji namun jika kinerja Nol tidak pernah hadir
dalam pertemuan dan jarang masuk kerja, apa gunanya? Lalu bagaimana dengan para guru yang mengajar di Kalimatan,
NTB,NTT, dan tempat- tempat yang tidak dapat dijangkau, mereka selalu hadir
dalam setiap sesi belajar mengajar namun gaji mereka tidak seberapa? Apakah dengan cara ini pemerintah
menghargainya? Dengan memberi yang tidak setimpal. Hal inilah yang membuat
Indonesia ketinggalan jauh dari negra lain seperti Singapura, Malaysia yang
dimana Negara tersebut merdeka setelah Indonesia namun dapat maju dan menjadi
Negara yang maju, bagaiman dengan
Indonesia?
Korupsi
hilang, Hukum adil, pemrintah melayani rakyat, kinerja pemerintah dan polisi
yang baik, Indonesia mapu melampui Singapura dan menjadi Negara maju. Tapi itu
hanya mimpi saja, Indonesia memang sudah merdeka namun hanya luarnya saja, tetapi
bagian dalamnya mencapi 50% merdeka saja tidak , mengapa begitu hal ini
disebabkan indonesia menjajah negaranya sendiri dengan ketidakadilan yang sudah
tidak diluar nalar manusia.
Indonesia
bisa diibaratkan seperti cover buku saja indah diluar namun dalamnya tidak
bermutu penuh dengan hal- hal yang tidak penting dan tidak berguna. Indonesia
penuh dengan beragam budaya, bahasa, flora dan fauna sudah seperti surga dunia
namun dalam sistem pemerintahan penuh
dengan korupsi, ketidakadilan dan banyak hal yang membuat kemunduran. Cukup
bisakah Indonesia bangkit dan menjadi buku yang indah di dalam dan luar
sehingga pembaca tidak kecewa saat membelinya.
Oleh:Retno Indah Sari,Mahasiswi Jurusan Teknik Sipil,Universitas Teknologi Yogjakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar